Dies Natalis 18 PCR: Hendriko, Memang Jodohnya dengan PCR

 

Pekanbaru (7/8) – “Saya diterima bekerja untuk diproyeksikan sebagai kepala bengkel. Mereka meminta saya berangkat ke Medan untuk mengikuti training tetapi saya batalkan dan memutuskan untuk mengirim lowongan kerja menjadi staff pengajar di Politeknik Caltex Riau dengan embel-embel Caltex dimana pada saat itu merupakan perusahaan besar yang ada di Pekanbaru.” Ujar Hendriko, Doktor lulusan dari Universite Blaise Pascal Prancis.

Selepas wisuda dari Teknik Mesin USU pada bulan April tahun 2000, saya langsung pindah dari hidup sebagai anak kos di Medan untuk kembali tinggal bersama orang tua di Pekanbaru. Sebagaimana umumnya sarjana yang baru lulus, pekerjaan selanjutnya adalah mencari pekerjaan alias pengangguran. Ada beberapa perusahaan yang mengundang untuk mengikuti seleksi dari banyak lamaran yang disebar. Pengalaman tes pertama adalah seleksi menjadi pegawai PT Caltex Pacific Indonesia. Tentunya bisa ikut tes di perusahaan minyak kelas dunia adalah sebuah kesempatan yang sangat berharga. Perasaan senang sekaligus minder dan sedikit grogi muncul saat itu. Semua orang tahu bahwa karyawan di perusahaan tersebut sebagian besar adalah lulusan terbaik dari kampus terbaik di Indonesia. Dan memang benar,pesertanya banyak sekali sehingga tes psikologi harus dilaksanakan dalam beberapa gelombang.

Dua minggu setelah mengikuti tes psikologi saya kembali mendapat surat dari Caltex. Dalam surat itu saya dinyatakan lulus dan diundang untuk mengikuti wawancara. Surat tersebut adalah salah satu surat terbaik yang pernah saya terima karena sangat menyenangkan, membanggakan dan sekaligus membangkitkan rasa percaya diri. Sesuai dengan tanggal yang ditentukan selanjutnya saya mengikuti wawancara di Caltex Rumbai. Wawancara kali ini lebih banyak diisi dengan diskusi terkait bidang teknik mesin sesuai kompetensi yang saya kuasai. Suasananya hampir mirip seperti sidang sarjana, namun diskusinya lebih cair dan rileks.

 

Berbeda dengan tes sebelumnya, pengumuman hasil wawancara tidak secepat tes psikologi. Sambil menunggu hasil seleksi di Caltex saya ikut tes kerja di perusahaan otomotif yang berencana membuka showroom dan bengkel di Pekanbaru. Proses seleksi singkat, hanya satu minggu hasilnya sudah diputuskan. Saya diterima bekerja untuk diproyeksikan sebagai kepala bengkel. Mereka meminta saya berangkat ke Medan untuk mengikuti training.Meskipun saya menyetujuinya, namun sebenarnya saya tidak terlalu tertarik sehingga muncul keraguan yang besar.

Dalam masa menunggu keberangkatan ke Medan ternyata keluar pengumuman lowongan Dosen di Politeknik Caltex Riau. Saya memang sempat membaca berita dan artikel terkait rencana pendirian Politeknik Caltex Riau di harian Riau Pos. Namun tidak banyak informasi yang saya ketahui selain bahwa Politeknik ini akan dibangun oleh Caltex. Akhirnya saya putuskan untuk mengirim lamaran, dan dalam waktu bersamaan memutuskan untuk tidak jadi mengikuti training ke Medan. Pembatalan sekaligus permohonan maaf saya sampaikan melalui surat ke perusahaan otomotif tersebut. Meskipun batal bergabung, paling tidak mobil yang mereka jual jadi kendaraan kesayangan saya sekarang.

Mungkin karena masih ada embel embel Caltex membuat peminat calon pengajar di Politeknik Caltex Riau banyak sekali. Namun pada tes kali ini tingkat kepercayaan diri saya berbeda. Modal lulus tes psikologi di Caltex menumbuhkan keyakinan tersendiri. Proses seleksi menjadi dosen di Politeknik Caltex Riau berlangsung singkat. Hanya butuh waktu sekitar 2 minggu seluruh proses seleksi yang meliputi tes psikologi dan wawancara sudah diputuskan hasilnya. Dan akhirnya saya dinyatakan lulus menjadi dosen serta diminta bersiap untuk berangkat training ke Bandung. Kali ini saya mantap memutuskan untuk bergabung bersama dengan tujuh calon pengajar lainnya. Hingga bus Kramat Jati yang kami tumpangi berangkat ke Bandung, pengumuman tes Caltex masih juga belum keluar.

Di Bandung kami bertemu dengan para calon pengajar Politeknik Caltex Riau lainnya yang direkrut di beberapa tempat di Pulau Jawa. Kami mengikuti training metodologi pengajaran di kampus Politeknik Negeri Bandung mulai dari tanggal 1 Juli 2000. Training ini berlangsung selama satu bulan. Selepas itu pendidikan dilanjutkan dengan training sesuai dengan bidang kompetensi masing-masing. Calon dosen dengan kompetensi bidang komputer tetap training di Politeknik Negeri Bandung, sedangkan yang bidang elektronika pindah ke Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. Saya dan tiga teman teman lainnya yang memiliki latar belakang teknik mesin menuju ke ke kampus Akademi Teknik Mesin Industri di Surakarta. Di ATMI kami belajar bagaimana mengoperasikan mesin-mesin industri seperti mesin bubut dan mesin milling.

Setelah menjalani training selama satu bulan di Surakarta, keluarga di Pekanbaru mengabarkan bahwa surat hasil wawancara dari Caltex telah diterima. Di surat tersebut saya dinyatakan lulus dan diminta untuk mengikuti tes kesehatan. Kabar ini membuat saya dan keluarga benar-benar menghadapi dilema. Saya dihadapkan dua pilihan yang menurut kami sama sama baik. Posisi saya yang saat itu jauh dari Pekanbaru dan ditambah dengan buta warna parsial yang saya miliki menjadi pertimbangan keluarga untuk menyarankan saya tetap menjadi dosen di Politeknik Caltex Riau.

Pada zaman itu transportasi pesawat belum semudah dan semurah sekarang. Saya menerima saran keluarga dan setuju untuk tetap menjadi dosen. Namun saya punya pertimbangan sendiri dalam keputusan tersebut, yaitu saya sudah terlanjur menyukai apa yang sedang saya jalani. Akhirnya saya tetap mengikuti training di ATMI hingga selesai selama 6 bulan. Setelah itu kami bergabung dengan tim di Pekanbaru dalam mempersiapkan pendirian kampus Politeknik Caltex Riau.

Tentunya setiap pilihan yang diambil ada yang mendukung dan ada yang tidak. Namun saya bersyukur dihadapkan pada pilihan yang sama-sama baik. Sehingga yang manapun diputuskan tetap saja dapat yang baik. Saya bersyukur memilih menjadi dosen sehingga saya bisa terus belajar dan memperoleh gelar pendidikan tertinggi dari kampus terbaik di luar negeri. Capaian ini adalah sesuatu sangat jauh dari jangkauan saya dan tidak terbayangkan sebelumnya. Saya bersyukur bisa mengunjungi banyak negara dan bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda. Saya bersyukur dikumpulkan dengan rekan kerja yang sekaligus juga tetangga rumah yang baik-baik, yang selalu mengingatkan ke jalan kebaikan. Saya bersyukur bisa memberi warna bagi Politeknik Caltex Riau dalammenjalankan peran mendidik anak bangsa. Dan tentunya masih banyak hal lainnya yang memang pantas untuk disyukuri. Jadi dapat saya katakan bahwa saya memang sangat berjodoh dengan PCR.

“Dirgahayu Politeknik Caltex Riau Selamat Dies Natalis ke-18”

Dr. Hendriko, S.T., M.Eng. 

  • Berita
Bagikan ke teman