PCR Raih Hibah Program Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi

Hibah Program Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT) adalah salah satu kebijakan insentif Kementrian Ristekdikti untuk mendukung agar hasil riset dapat memiliki manfaat dan lebih berkualitas bagi kebutuhan masyarakat umum atau masyarakat industri.

 

Program ini diharapkan dapat membantu pengelolaan hasil riset dan pengembangan produk dalam bentuk prototipe agar menjadi sempurna dan disiapkan menjadi inovasi komersial. Pelaksanaan program ini dimulai dengan sosialisasi CPPBT oleh Kementrian Ristekdikti, pengajuan proposal hibah, seleksi substansi dan administrasi, dan seleksi persentasi. Berdasarkan proses ini, Kementrian Ristekdikti menetapkan penerima hibah CPPBT dan melakukan penandatanganan kontrak. Nantinya, penerima hibah akan merealisasikan proposal kegiatannya dan melakukan pameran Inovasi di tingkat nasional.

Tahun ini, Politeknik Caltex Riau melalui Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat ikut berpartisipasi dalam program hibah ini. 3 judul proposal berhasil sampai pada tahap seleksi persentasi. Setelah melewati proses seleksi, Alhamdulillah proposal dengan judul modul Integrated Water Springkler System (IW2S) yang berbasis IoT ditetapkan sebagai penerima hibah dengan total pendanaan sebesar Rp. 154.118.000. 

Modul Integrated Water Springkler System (IW2S) yang diajukan adalah pengembangan dari Proyek Akhir mahasiswa, Mhd Syaiful Ritonga, dari Program Studi Teknik Komputer yang telah diwisuda pada 2016 lalu. Modul IW2S merupakan kombinasi dari pengontrolan perangkat keras dan perangkat lunak berbasis mobile yang mampu mendukung pertumbuhan tanaman dengan baik dan mengefisienkan penggunaan air pada penyiraman tanaman. Program CPPBT yang diikuti saat ini diharapkan dapat membantu merealisasikan tujuan tersebut dalam 3 fase menuju produk komersial. Fase pertama fokus pada finalisasi prototipe dan persiapan untuk pengujian daya tahan. Fase kedua merupakan proses pengujian daya tahan prototipe dengan parameter pengujian waktu dan skala implementasi (jumlah node). Pada fase ini pula penyempurnaan produk dilakukan berdasarkan hasil dari pengujian (fine tuning). Setelah itu, fase ketiga fokus pada membuat produk versi komersial yang terdiri dari pengemasan, pembuatan sampel produk, promosi, uji pasar, hingga produk bisa diimplementasikan.

Satu set modul ini terdiri dari sensor, prosesor, dan aktuator yang memiliki fungsi utama untuk menyiram tanaman. Sensor kelembapan yang tersebar pada lahan penanaman dianggap sebagai sebuah node akan mengirimkan informasi kelembapan kepada prosessor. Prosesor dengan kecerdasan buatan akan mengolah informasi kelembapan untuk menghasilkan sebuah keputusan seberapa banyak air yang dibutuhkan tanaman. Hasil olahan informasi oleh prosesor akan dikirimkan kembali kepada masing-masing node yang akan menghidupkan aktuator berupa pompa penyiram tanaman secara otomatis. Pengguna juga dapat memonitor sistem terintegrasi ini melalui sebuah aplikasi berbasis Android yang dipasang pada perangkat mobile.  Aplikasi monitoring ini menyediakan informasi laporan kelembapan tanah, log penyiraman, konsumsi air, dan kondisi alert pada sistem penyiraman. 

 

Link video prototipe: https://www.youtube.com/watch?v=xy9n30qyAz8

 

  • Berita
Bagikan ke teman

Komentar